Memahami Suku Mandar Lewat Perahu Sandeq


Sebagai bangsa maritim, Indonesia memiliki beragam karya seni budaya yang mumpuni untuk mengarungi ganasnya lautan. Tidak hanya Phinisi yang begitu terkenal, di Kabupaten Palewali Mandar tepatnya pada masyarakat Suku Mandar terdapat sebuah perahu yang menjadi karya seni budaya masyarakat setempat.

Adalah perahu Sandeq, yakni sebuah perahu tradisional khas Suku Mandar yang memiliki panjang sekitar 11 meter dan lebar sekitar 80 meter dengan cadik yang berfungsi sebagai penyeimbang di sisi kanan kirinya. Meski terlihat sederhana, namun ternyata perahu Sandeq telah mengarungi beberapa pulau Nusantara bahkan hingga daratan Madagaskar.

Perahu Sandeq memang dipercaya sebagai perahu tradisional yang unggul. Bahkan menurut peneliti asal Jerman bernama Horst H Liebner, Sandeq adalah perahu tradisional terkuat yang pernah ada di kawasan Austronesia. Perahu ini juga memiliki ketangguhan dalam menghadapi angin dan gelombang saat mengarungi laut lepas.

Keunggulan perahu Sandeq memang tidak lepas dari proses pembuatan yang cukup rumit. Setiap perahu membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 bulan proses pembuatan. Proses pembuatan dimulai dari pemilihan bahan baku. Jenis pohon kandaruang mamea menjadi bahan utama untuk membuat perahu ini.

Tidak semua orang dalam masyarakat Suku Mandar dapat membuat perahu. Keahlian ini hanya dimiliki oleh para pengrajin yang banyak dijumpai di Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat.

Pohon yang dipilih umumnya pohon yang berumur tua untuk menghindari penebangan yang tidak beraturan. Selain itu, penebangan pohon juga biasanya diawali dengan beragam ritual seperti pembacaan doa dan mantra yang dipanjatkan kepada makhluk halus yang biasanya menghuni pohon. Selain itu, doa pun dipanjatkan bagi pohon yang akan ditebang agar prosesnya tidak sulit dan dimudahkan.

Sebelum perahu hendak dibuat, masyarakat biasanya melakukan musyawarah untuk menentukan waktu yang tepat untuk melaksanakan acara tersebut. Hari baik biasanya dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan. Biasanya dipilih hari ke-15 berdasarkan kalender islam berdasarkan keyakinan masyarakat Suku Mandar yang menjadi saat tepat untuk memulai proses pembuatan perahu.

Pembuatan pun dipenuhi dengan beragam ritual demi mendapatkan hasil perahu yang kuat dan juga memberi keselamatan bagi siapapun yang menggunakannya. Ritual adat seperti pembacaan mantra-mantra biasanya berlangsung selama proses pembuatan perahu. Hal ini bertujuanuntuk perahu tersebut terlepas dari bencana yang tidak diinginkan.

Perahu Sandeq memang bukan sekedar karya serta warisan seni budaya masyarakat Suku Mandar. Lebih dari itu, perahu Sandq juga dianggap sebagai cerminan dari masyarakat Mandar itu sendiri. Dalam perahu tersebut baik saat proses pembuatan maupun setelah selesai, nilai-nilai masyarakat Mandar seperti nilai religius, budaya, serta identitas memang tercermin dalam sebuah perahu Sandeq. Oleh karena itu sebagai identitas budaya Suku Mandar, perahu Sandeq patut dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya.

One comment

Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s